Selayar — Penguatan layanan kesehatan dan gizi di tingkat desa membutuhkan solusi yang tidak hanya berasal dari penyedia layanan, tetapi juga dari pengalaman dan kebutuhan masyarakat. Berangkat dari hal tersebut, Desa Appatanah melaksanakan Workshop “Translating Resident Identified Challenges into Actionable Solutions” sebagai bagian dari Outcome 2: Building Trust and Promoting Utilization yang didukung oleh PSD Japan bersama dengan Jenewa Institute dalam program Penguatan Layanan Kesehatan Ibu dan Persalinan Melalui Telemedicine di Kabupaten Kepulauan Selayar.

Kegiatan ini mempertemukan unsur pemerintah dan masyarakat desa, termasuk Ibu Desa, bidan desa, staf desa, kepala dusun, PKK, dan kader. Selama workshop, peserta bersama-sama meninjau berbagai tantangan yang selama ini dihadapi masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan serta mendiskusikan langkah yang dapat dilakukan untuk menjawab tantangan tersebut.

Berbagai persoalan muncul dalam diskusi, mulai dari keterbatasan transportasi bagi masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan, kondisi fasilitas Pustu dan Posyandu, keterbatasan akses air bersih dan jaringan komunikasi, hingga masih perlunya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, serta gizi. Dalam konteks kesehatan ibu, salah satu tantangan yang menjadi perhatian adalah akses ibu, khususnya ibu pascapersalinan, terhadap transportasi untuk kembali dari fasilitas kesehatan. Kondisi jalan di Desa Appatanah menjadi salah satu faktor yang membuat perjalanan dengan sepeda motor menjadi kurang mudah bagi masyarakat. Di sisi lain, Pustu juga masih membutuhkan penguatan fasilitas dan peralatan untuk mendukung pelayanan pemeriksaan kehamilan dan persalinan.

Diskusi dengan peserta workshop di Desa Appatanah, Kabupaten Kepulauan Selayar tentang tantangan yang dihadapi dalam mengakses layanan kesehatan, 10 September 2026

Peserta juga menyoroti pentingnya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai manfaat pemeriksaan kehamilan (Antenatal Care/ANC), Kelas Ibu Hamil, dan Posyandu. Keterlibatan suami atau pasangan dalam mendampingi ibu juga masih perlu diperkuat. Selain itu, keterbatasan pemahaman keluarga mengenai praktik pemberian makan bayi dan anak serta kebutuhan gizi ibu hamil dan ibu menyusui menjadi bagian dari tantangan yang dibahas. Tidak hanya mengidentifikasi permasalahan, workshop ini kemudian mengarahkan diskusi pada penyusunan solusi yang dapat diterapkan di tingkat desa.

Salah satu rencana yang dirumuskan adalah penyediaan ambulans desa dengan pengemudi yang tersedia selama 24 jam untuk mendukung kebutuhan transportasi pasien. Untuk mendukung akses air bersih, peserta juga mengusulkan penyediaan sumur bor di setiap dusun atau alternatif desalinasi air laut. Sementara untuk memperkuat komunikasi, direncanakan penyediaan layanan internet di setiap dusun yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat melalui mekanisme kontribusi bersama atau voucher.

Penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader juga menjadi bagian penting dari rencana tindak lanjut. Bidan desa dan kader akan mendapatkan pelatihan secara berkala mengenai kesehatan ibu dan anak, Kelas Ibu Hamil, serta penanganan kegawatdaruratan. Pada saat yang sama, peningkatan fasilitas Pustu dan Posyandu serta penyediaan media edukasi seperti leaflet, poster, flip chart, dan video diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan dan kader dalam memberikan informasi kepada masyarakat.

Dari sisi pemberdayaan masyarakat, workshop juga mendorong keterlibatan keluarga dan tokoh masyarakat dalam mendukung kesehatan ibu dan anak. Salah satu target yang dirumuskan adalah keterlibatan suami atau pasangan dalam Kelas Ibu Hamil setiap bulan. Selain itu, workshop atau orientasi mengenai kesehatan ibu dan anak akan dilakukan secara berkala dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan masyarakat secara lebih luas.

Aspek gizi turut menjadi perhatian dalam rencana aksi Desa Appatanah. Pemantauan status kehamilan dan gizi ibu, edukasi gizi, serta pendampingan anak yang mengalami wasting, stunting, atau masalah kesehatan lainnya akan diperkuat melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, kader, keluarga, dan tokoh masyarakat. Pendampingan khusus juga direncanakan bagi ibu hamil berisiko tinggi melalui pemantauan, konseling, dan rujukan yang sesuai.

Edukasi mengenai pola makan sehat, kebersihan air, dan praktik pemberian makan bayi dan anak juga akan dilakukan secara berkala. Selain itu, bidan desa dan kader yang telah mendapatkan pelatihan akan berperan dalam memberikan edukasi kesehatan dan gizi kepada masyarakat, termasuk mengenai pertumbuhan anak dan pencegahan masalah gizi.

Melalui workshop ini, berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat Desa Appatanah tidak hanya dicatat sebagai permasalahan, tetapi diterjemahkan menjadi rencana dan target yang dapat ditindaklanjuti. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, keluarga, tokoh masyarakat, dan masyarakat dalam meningkatkan akses serta pemanfaatan layanan kesehatan dan gizi di Desa Appatanah.

By Rasni