Biak Numfor, Papua – Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang sehat memerlukan lebih dari sekadar penyediaan makanan bergizi. Edukasi mengenai pola makan sehat, penguatan kebiasaan konsumsi pangan bergizi, serta penyediaan kantin yang menyediakan pilihan makanan sehat menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang sehat dan berkualitas.
Berangkat dari semangat tersebut, diselenggarakan kegiatan Peningkatan Kapasitas Kantin Sehat di Satuan Pendidikan Kabupaten Biak Numfor Tahun 2026. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, UNICEF, Yayasan Jenewa Madani Indonesia, Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, serta berbagai kementerian dan lembaga sebagai bagian dari dukungan terhadap implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Membuka kegiatan, perwakilan Direktorat Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Minhajun Ngabidin, menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra yang telah berkolaborasi dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan dan pendidikan anak di Kabupaten Biak Numfor.
Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga harus mampu membentuk karakter dan memastikan tumbuh kembang anak berlangsung secara optimal.
“Kecerdasan dan karakter yang baik harus didasari oleh kesehatan tubuh dan pikiran. Oleh karena itu, Upaya Kesehatan Sekolah, Gerakan Sekolah Sehat, serta edukasi gizi harus kita perkuat bukan hanya sebagai administrasi semata, namun menjadi aktivitas nyata sehari-hari anak,” ujarnya.
Menurutnya, pembentukan kebiasaan hidup sehat perlu dilakukan secara konsisten melalui penerapan Tujuh Kebiasaan Baik Anak Indonesia Hebat, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, belajar rajin, bermasyarakat, dan istirahat cukup.

Dalam konteks lingkungan sekolah, kebiasaan makan sehat dapat dibangun melalui berbagai pendekatan, mulai dari membawa bekal dari rumah, memilih jajanan sehat di kantin sekolah, hingga pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Ketiga aspek tersebut diharapkan menjadi sarana pembelajaran yang tidak hanya berdampak bagi peserta didik, tetapi juga mampu mendorong perubahan perilaku di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Nutrition Specialist UNICEF, Airin Roshita, menjelaskan bahwa Kabupaten Biak Numfor dipilih sebagai salah satu wilayah percontohan nasional dalam penguatan program gizi sekolah. Sebanyak 48 sekolah mitra menjadi lokasi implementasi program yang mengintegrasikan edukasi gizi dengan penguatan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik.
Menurut Airin, penyediaan makanan bergizi tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak diikuti dengan peningkatan pengetahuan anak mengenai pentingnya makanan sehat.
“Kami mengadopsi konsep Shokuiku atau pendidikan makanan dari Jepang, di mana pemberian makan di sekolah diinternalisasikan menjadi proses pembelajaran dan pembiasaan. Anak-anak tidak hanya makan, tetapi diajarkan memahami asal-usul makanan, kandungan gizi, serta menghargai proses panjang dari petani hingga tersaji di meja makan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan menghabiskan makanan sekaligus meningkatkan kesadaran anak terhadap manfaat pangan bergizi bagi kesehatan.
Berdasarkan pengalaman pelaksanaan awal Program Makan Bergizi Gratis, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah tingginya sisa sayuran pada makanan yang disajikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku konsumsi pangan memerlukan proses edukasi yang berkelanjutan, tidak hanya melalui penyediaan makanan bergizi tetapi juga melalui pembelajaran yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Selain penguatan edukasi gizi, kegiatan ini juga menitikberatkan pada pengembangan kantin sekolah sebagai bagian dari lingkungan belajar yang sehat. Transformasi yang diharapkan bukan sekadar memperbaiki bangunan fisik kantin, tetapi juga mendorong tersedianya pilihan makanan yang lebih sehat, aman, dan higienis.
“Kami tidak membutuhkan kantin yang mewah, namun kami membutuhkan kantin yang menjual makanan sehat dan higienis. Hal kecil seperti menyediakan air putih saja sudah merupakan langkah besar bagi kesehatan anak dalam jangka panjang,” tegas Ibu Airin.
Melalui pendekatan tersebut, makanan tinggi gula, garam, dan lemak diharapkan secara bertahap digantikan dengan pilihan yang lebih bergizi, seperti umbi-umbian rebus, buah-buahan segar, serta air minum yang aman.
Kegiatan peningkatan kapasitas ini menghadirkan fasilitator dari berbagai kementerian dan lembaga, antara lain Direktorat Sekolah Dasar, Direktorat Sekolah Menengah Pertama, Direktorat PAUD, Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), UNICEF, serta Yayasan Jenewa Madani Indonesia. Berbagai masukan yang dihimpun selama pelaksanaan kegiatan akan menjadi bagian dari penyempurnaan panduan teknis yang akan digunakan dalam pengembangan kantin sehat dan edukasi gizi di berbagai daerah di Indonesia.
Mewakili Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Biak Numfor, Rahmad Parlindungan berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan kegiatan ini sebagai ruang belajar dan berbagi pengalaman sehingga hasilnya dapat diterapkan di satuan pendidikan masing-masing.
“Kami berharap para peserta mengikuti pelatihan ini secara aktif sehingga penguatan edukasi gizi dan pengelolaan kantin sehat di satuan pendidikan dapat terlaksana dengan baik serta mendukung implementasi Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Biak Numfor,” ujarnya.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, diharapkan sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang yang membentuk kebiasaan hidup sehat sejak dini. Dengan dukungan pemerintah, mitra pembangunan, tenaga pendidik, pengelola kantin, tenaga kesehatan, dan orang tua, penguatan kantin sehat di Kabupaten Biak Numfor diharapkan mampu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih sehat sekaligus mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkarakter.
