Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan praktik gizi yang baik pada anak usia sekolah dasar, UNICEF bekerja sama dengan Yayasan Jenewa Madani Indonesia melaksanakan kegiatan pelatihan Kapten Bergizi bagi siswa kelas 4–5 di Kabupaten Biak Numfor. Kegiatan ini merupakan bagian dari pemodelan program gizi berbasis sekolah yang dilaksanakan bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Kementerian Agama, serta Kementerian Kesehatan.
Pelatihan dilaksanakan pada 9–10 Maret 2026 di KSL Grand Ballroom dan diikuti oleh siswa terpilih bersama guru pendamping dari sekolah dampingan. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman peserta didik mengenai pentingnya gizi seimbang serta membangun keterampilan kepemimpinan siswa dalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada teman sebaya di lingkungan sekolah.
Dalam pelaksanaannya, para peserta mendapatkan berbagai materi terkait gizi dasar, pola makan sehat, serta metode pembelajaran yang menyenangkan melalui permainan edukatif. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah permainan Petualangan Bergizi, yaitu metode pembelajaran interaktif yang dirancang agar siswa dapat memahami konsep gizi dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami.

Setelah mengikuti pelatihan, siswa yang terpilih sebagai Kapten Bergizi diharapkan mampu memimpin permainan tersebut bersama teman-teman di sekolah masing-masing. Selain itu, mereka juga didorong untuk berperan aktif dalam mendukung berbagai kegiatan Sekolah/Madrasah Sehat, seperti pembinaan kantin sehat, pemanfaatan pekarangan sekolah untuk tanaman pangan, kegiatan penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala, serta dukungan pada program pemberian obat cacing bagi siswa.
Guru pendamping yang turut mengikuti pelatihan juga dibekali pemahaman mengenai bagaimana mengintegrasikan pendidikan gizi ke dalam kegiatan sekolah sehari-hari. Dengan dukungan guru, diharapkan kegiatan edukasi gizi dapat berlangsung secara berkelanjutan dan menjadi bagian dari budaya hidup sehat di sekolah.
Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu mengajak teman sebaya untuk menerapkan kebiasaan makan sehat dan gaya hidup yang lebih baik. Dengan demikian, lingkungan sekolah dapat menjadi ruang belajar yang tidak hanya mendukung prestasi akademik, tetapi juga kesehatan dan kesejahteraan siswa secara menyeluruh.
