Kepulauan Selayar, Juli 2026 — Jenewa Institute bersama PSD Japan yang bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar dalam upaya meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam mendukung deteksi dini kondisi dan kelainan janin, telah dilaksanakan pelatihan dengan tema “Protecting Babies and Mothers with Ultrasound from Japan to Indonesia.” Kegiatan ini menghadirkan dr. Shinji Tanigaki dari Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kyorin, Tokyo, Jepang, sebagai narasumber.
Pelatihan dilaksanakan secara hybrid, dengan peserta yang mengikuti kegiatan secara langsung maupun melalui platform Zoom. Kegiatan tidak hanya diikuti oleh tenaga kesehatan dari fasilitas yang menjadi lokus program, yaitu RSUD K.H. Hayyung, RS Pratama Jampea, PKM Lowa, PKM Benteng Jampea, dan PKM Ujung Jampea, tetapi juga melibatkan dokter dan bidan dari sejumlah puskesmas di wilayah pulau-pulau di Kabupaten Kepulauan Selayar. Peserta yang hadir secara langsung mengikuti kegiatan di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Selayar, sementara peserta lainnya mengikuti secara daring.
Materi pelatihan menekankan pentingnya pemeriksaan ultrasonografi (USG) sebagai salah satu alat untuk membantu menilai kondisi janin selama kehamilan. Peserta diajak memahami bahwa ketelitian dalam mengamati gambaran USG merupakan bagian penting dalam mengenali tanda-tanda awal kelainan pada janin. Dalam sesi pembelajaran, peserta mempelajari pentingnya mengamati bentuk, ukuran, dan posisi berbagai struktur anatomi secara sistematis. Pemeriksaan tidak hanya berfokus pada satu organ, tetapi mencakup kepala dan otak, tulang belakang, dada, jantung, lambung, serta organ terkait lainnya.

Sejumlah kondisi dan kelainan yang dibahas melalui contoh gambar USG antara lain anensefali, holoprosensefali, meningokel, hidrosefalus, kelainan jantung, hidrotoraks, hernia diafragmatika kongenital, heterotaksi, serta atresia duodenum yang ditandai dengan double bubble sign.
Peserta juga diperkenalkan pada beberapa tanda penting yang dapat ditemukan dalam pemeriksaan USG, seperti lemon sign, strawberry sign, dan double bubble sign. Selain itu, pengukuran ventrikel lateral menjadi salah satu aspek yang dibahas dalam membantu menilai kemungkinan hidrosefalus. Pemeriksaan empat ruang jantung serta posisi jantung juga menjadi bagian penting dalam mengenali kemungkinan kelainan jantung bawaan.
Melalui contoh kasus dan gambar USG, peserta belajar menghubungkan temuan pada gambar dengan kondisi klinis janin. Penggunaan fitur freeze pada perangkat USG juga diperkenalkan sebagai salah satu cara untuk membantu pemeriksa mengamati dan mengevaluasi gambar dengan lebih teliti.
Untuk meningkatkan interaksi dan antusiasme peserta, pelatihan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga dilengkapi dengan games dan kuis, serta pemberian hadiah kepada peserta. Pendekatan ini menciptakan suasana pembelajaran yang lebih interaktif sekaligus mendorong peserta untuk lebih aktif dalam memahami materi yang diberikan.
Pelaksanaan secara hybrid juga memberikan kesempatan yang lebih luas bagi tenaga kesehatan di Kabupaten Kepulauan Selayar untuk mengikuti pembelajaran tanpa terbatas oleh lokasi.

Mendorong Pembelajaran Berkelanjutan
Pelatihan ini diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan selama kegiatan berlangsung, tetapi dapat dilanjutkan melalui latihan, review, dan diskusi kasus secara berkala. Penguatan kemampuan interpretasi USG perlu dilakukan secara berkelanjutan, khususnya dalam mengenali anatomi normal maupun tanda-tanda kelainan yang khas.
Sebagai tindak lanjut, khususnya bagi PKM Lowa, PKM Ujung Jampea, PKM Benteng Jampea, dan RS Pratama Jampea, diharapkan dapat diagendakan forum diskusi setiap dua bulan sekali bersama Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RSUD K.H. Hayyung. Forum tersebut dapat menjadi ruang untuk membahas kasus yang ditemukan di lapangan, berbagi pengalaman, serta mendiskusikan temuan yang membutuhkan pembelajaran bersama.
