Pada tanggal 20–23 Mei 2026_Jenewa Institute bersama PSD Japan melakukan kunjungan ke pelaksanaan Kelas Ibu Hamil di wilayah kerja daratan Puskesmas Lowa yang berlangsung di Kantor Desa Appatanah, Kantor Desa Lowa, Kantor Desa Lantibongan, dan Gedung PKK Desa Binanga Sombaiya, Kabupaten Kepulauan Selayar.

Kunjungan ini bertujuan untuk melihat secara langsung pelaksanaan Kelas Ibu Hamil serta mengidentifikasi bentuk kolaborasi antara Puskesmas dan Pemerintah Desa dalam mendukung kesehatan ibu dan anak. Dari hasil observasi di empat lokasi, terlihat adanya kerja sama yang baik antara kedua pihak dalam penyelenggaraan kegiatan. Pemerintah desa berperan aktif dalam mempersiapkan pelaksanaan kelas, mulai dari penyebarluasan informasi kepada masyarakat melalui kader kesehatan dan anggota PKK, hingga penyediaan konsumsi bagi peserta. Sementara itu, Puskesmas bertanggung jawab dalam penyediaan tenaga kesehatan dan materi edukasi yang disampaikan selama kegiatan berlangsung.

Kelas Ibu Hamil di wilayah daratan Puskesmas Lowa dilaksanakan secara rutin setiap dua bulan sekali. Berbeda dengan wilayah kepulauan yang berada dalam wilayah kerja Puskesmas Lowa, kegiatan serupa belum memiliki jadwal tetap dan hanya dilaksanakan pada saat terdapat kunjungan Puskesmas Keliling.

Pembukaan kelas ibu hamil di wilayah kerja PKM Lowa bersama PSD Japan dan Pemerintah Desa setempat, 20 Mei 2026, Kab. Kepulauan Selayar.

Selain dihadiri oleh ibu hamil, kegiatan ini juga melibatkan kader kesehatan dan anggota PKK yang turut mengikuti materi yang disampaikan. Kelas umumnya dibuka oleh Kepala Desa atau Ketua PKK setempat, dan apabila berhalangan akan diwakili oleh sekretaris desa atau perwakilan pemerintah desa lainnya.

Hasil observasi menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang digunakan masih didominasi oleh metode ceramah satu arah. Media yang digunakan umumnya berupa lembar balik dengan materi yang berfokus pada tanda bahaya kehamilan. Penggunaan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) sebagai media edukasi belum terlihat dalam pelaksanaan kelas, padahal buku tersebut merupakan salah satu sarana penting untuk membantu ibu hamil memahami informasi kesehatan serta memantau kondisi kehamilannya secara mandiri.

Selain itu, pada seluruh kelas yang dikunjungi belum ditemukan adanya aktivitas fisik, senam ibu hamil, maupun demonstrasi pemorsian makanan sebagai bagian dari sesi pembelajaran. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaksanaan kelas masih berfokus pada penyampaian materi secara teoritis.

Meskipun demikian, kolaborasi antara Puskesmas dan Pemerintah Desa dalam mendukung pelaksanaan Kelas Ibu Hamil merupakan praktik baik yang patut diapresiasi. Dukungan pemerintah desa dalam mobilisasi peserta dan penyediaan kebutuhan kegiatan menjadi salah satu faktor penting dalam keberlangsungan program ini.

Ke depan, diperlukan penguatan metode pembelajaran yang lebih interaktif, partisipatif, dan menyenangkan agar peserta lebih aktif terlibat dalam proses belajar. Materi yang diberikan juga perlu disesuaikan dengan usia kehamilan peserta sehingga lebih relevan dengan kondisi dan kebutuhan yang sedang mereka alami.

Selain itu, diperlukan pelatihan berjenjang bagi tenaga Puskesmas, bidan desa, perawat, kader kesehatan, serta anggota PKK untuk menyamakan pemahaman terkait materi dan metode pelaksanaan Kelas Ibu Hamil. Dengan demikian, kelas tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga menjadi ruang belajar yang aktif, menarik, dan mampu meningkatkan pengetahuan serta kesiapan ibu dalam menjalani kehamilan dan persalinan.

By Rasni