Sebagai bagian dari upaya memperkuat akses dan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak di wilayah kepulauan, rangkaian pertemuan koordinasi dilaksanakan bersama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar, fasilitas layanan kesehatan, serta mitra internasional dalam mendukung implementasi Archipelago Health Bridge Project. Program ini merupakan kolaborasi antara Indonesia dan Jepang yang berfokus pada transformasi layanan kesehatan melalui penguatan telemedicine, sistem rujukan, serta pemberdayaan masyarakat di wilayah kepulauan.

Kegiatan koordinasi melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Selayar, RSUD KH Hayyung, PSD Japan, Jenewa Madani Indonesia, serta berbagai pemangku kepentingan yang memiliki peran dalam penguatan layanan kesehatan ibu dan anak di Kabupaten Kepulauan Selayar.

Dalam pemaparannya, Prof. Watanabe menyampaikan bahwa Archipelago Health Bridge Project dirancang untuk menjawab berbagai tantangan layanan kesehatan di wilayah kepulauan, termasuk keterbatasan akses layanan spesialistik, hambatan geografis antar pulau, keterbatasan sistem rujukan, serta kebutuhan penguatan kapasitas tenaga kesehatan.

Wilayah implementasi program meliputi fasilitas kesehatan di daratan Selayar dan Pulau Jampea, termasuk RSUD KH Hayyung, beberapa puskesmas di wilayah intervensi, serta RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo sebagai rumah sakit rujukan provinsi. Program ini mengedepankan dua pendekatan utama, yaitu peningkatan kualitas layanan medis dan pemberdayaan masyarakat.

Kunjungan serta Diskusi bersama Kepala Dinas Kesehatan Kab. Selayar dan tim

Melalui pendekatan peningkatan kualitas layanan medis, program akan mendukung penguatan kapasitas tenaga kesehatan, pengembangan standar operasional prosedur (SOP), pemanfaatan telemedicine, serta penguatan sistem rujukan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak. Di sisi lain, pendekatan pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui peningkatan edukasi kesehatan, penguatan peran komunitas, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan layanan kesehatan secara optimal.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar menyampaikan dukungan penuh terhadap implementasi program ini. Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Selayar menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung keberlanjutan program melalui penguatan koordinasi lintas sektor, dukungan sumber daya manusia, fasilitas, serta kebijakan yang mendukung penguatan sistem kesehatan di wilayah kepulauan.

Dalam diskusi, berbagai tantangan layanan kesehatan di wilayah kepulauan turut menjadi perhatian bersama, di antaranya keterbatasan tenaga medis spesialis, kendala transportasi antar pulau, keterbatasan pembiayaan rujukan pasien, hingga akses layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah terpencil. Sebagai bentuk dukungan terhadap akses layanan kesehatan, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar saat ini juga tengah membangun Shelter House yang dapat dimanfaatkan oleh pasien dan keluarga pasien dari wilayah kepulauan selama menjalani pelayanan kesehatan di rumah sakit rujukan.

Penguatan sistem informasi kesehatan juga menjadi salah satu fokus utama dalam implementasi program. Saat ini koordinasi layanan kesehatan masih banyak dilakukan melalui platform komunikasi informal yang dinilai belum optimal untuk mendukung dokumentasi dan pengelolaan layanan kesehatan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, program ini turut mendorong pengembangan sistem digital yang terintegrasi dengan platform nasional SATUSEHAT guna mendukung pertukaran data kesehatan, telekonsultasi, serta koordinasi rujukan antar fasilitas layanan kesehatan secara lebih efektif.

Foto bersama Tenaga Kesehatan di RS K.H Hayyung Kab. Selayar

Dalam pertemuan bersama RSUD KH Hayyung, turut dibahas kondisi layanan kesehatan ibu di lapangan, termasuk masih rendahnya keterlibatan keluarga dalam mendukung pemeriksaan kehamilan serta tantangan pemanfaatan layanan Antenatal Care (ANC) di wilayah kepulauan. Selain itu, kebutuhan penguatan sistem rujukan dan komunikasi antar fasilitas kesehatan dinilai menjadi aspek penting dalam mendukung penanganan kasus kegawatdaruratan ibu dan anak.

Sebagai bagian dari penguatan kapasitas dan pembelajaran praktik baik, program ini juga merencanakan pelaksanaan study visit ke Tsushima, Jepang, yang memiliki karakteristik geografis serupa dengan Kabupaten Kepulauan Selayar. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mempelajari praktik penanganan kegawatdaruratan, pemanfaatan telemedicine, integrasi rekam medis, serta penguatan peran masyarakat dalam mendukung layanan kesehatan ibu dan anak di wilayah kepulauan.

Melalui kolaborasi lintas sektor dan dukungan berbagai pihak, diharapkan implementasi Archipelago Health Bridge Project dapat memperkuat sistem layanan kesehatan ibu dan anak yang lebih inklusif, terintegrasi, dan berkelanjutan, sehingga masyarakat di wilayah kepulauan dapat memperoleh akses layanan kesehatan yang lebih mudah, cepat, dan berkualitas.

By Rasni