Biak Numfor, Papua — Menciptakan lingkungan sekolah yang sehat tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga melalui lingkungan yang mendukung peserta didik dalam menerapkan kebiasaan hidup sehat. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Penguatan Kantin Sehat di Satuan Pendidikan 3T (Pulau Mbromsi), Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua Tahun 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan edukasi gizi di satuan pendidikan melalui kolaborasi antara Yayasan Jenewa Madani Indonesia, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Biak Numfor, Dinas Kesehatan Kabupaten Biak Numfor, pemerintah kampung, dan pihak sekolah. Penguatan Kantin Sehat juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan edukasi gizi di Kampung Mbromsi yang meliputi implementasi MBG dan edukasi gizi, Kapten Bergizi, Kebun Bergizi, serta Mading Gizi.

Kantin Sehat sebagai Ruang Belajar
Kantin sekolah memiliki peran lebih dari sekadar menyediakan makanan dan minuman. Kantin dapat menjadi bagian dari lingkungan belajar yang membantu peserta didik mengenal makanan sehat, membangun kebiasaan makan yang baik, serta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan penguatan mengenai kebijakan dan prinsip Kantin Sehat di satuan pendidikan. Kantin sehat diharapkan dapat menyediakan makanan yang bergizi seimbang, aman dikonsumsi, bersih dalam pengelolaannya, dan halal.
Pengelolaan Kantin Sehat juga perlu didukung oleh kebijakan sekolah dan keterlibatan berbagai pihak. Karena itu, kegiatan ini turut membahas keterkaitan Kantin Sehat dengan UKS dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga upaya penyediaan makanan bergizi dapat berjalan seiring dengan edukasi dan pembiasaan memilih makanan sehat.
Mengenal dan Memilih Makanan yang Lebih Sehat
Kualitas makanan dan minuman menjadi salah satu fokus dalam penguatan Kantin Sehat. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik berdasarkan prinsip Gizi Seimbang dan konsep Isi Piringku.
Materi juga membahas pentingnya membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak serta mengurangi konsumsi makanan ultra proses. Peserta diperkenalkan pada pengelompokan makanan yang dianjurkan, dibatasi, dan tidak dianjurkan tersedia di kantin sekolah.
Makanan yang dianjurkan antara lain makanan bergizi seimbang dari bahan alami atau olahan sederhana, buah segar, susu tanpa tambahan gula, serta jajanan tradisional. Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai cara memilih pangan kemasan melalui Cek KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa) serta membaca informasi nilai gizi pada kemasan.

Kantin sehat juga harus menjamin keamanan makanan dan minuman yang dikonsumsi peserta didik. Melalui materi keamanan pangan, peserta mempelajari berbagai sumber cemaran biologis, kimia, dan fisik serta cara mencegah terjadinya kontaminasi.
Peserta diperkenalkan pada Lima Kunci Keamanan Pangan, yaitu menjaga kebersihan, memisahkan pangan matang dan mentah, memasak dengan benar, menjaga pangan pada suhu yang aman, serta menggunakan air dan bahan baku yang aman.
Penerapan higiene dan sanitasi juga menjadi bagian penting, mulai dari kebersihan penjamah makanan, peralatan, tempat pengolahan, penyimpanan, hingga penyajian makanan. Diskusi dan studi kasus digunakan untuk membantu peserta mengidentifikasi potensi risiko keamanan pangan yang dapat terjadi di kantin sekolah.
Membangun Infrastruktur dan Tata Kelola yang Mendukung
Kantin sehat membutuhkan infrastruktur yang mendukung keamanan dan kenyamanan. Dalam kegiatan ini, peserta membahas berbagai aspek, mulai dari ketersediaan air bersih dan fasilitas sanitasi hingga ruang pengolahan, penyimpanan, penyajian makanan, dan area makan.
Peserta juga melakukan diskusi kelompok untuk mengidentifikasi permasalahan infrastruktur yang terdapat di sekolah, menentukan prioritas, dan menyusun langkah perbaikan yang realistis sesuai kondisi masing-masing sekolah.
Perbaikan tidak harus dilakukan sekaligus dalam skala besar. Langkah perbaikan dapat dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan aspek yang paling berisiko terhadap keamanan pangan dan kesehatan peserta didik.
Selain infrastruktur, keberlanjutan Kantin Sehat membutuhkan tata kelola yang baik. Hal ini mencakup kebijakan, perencanaan, koordinasi, peningkatan kapasitas, pembinaan, serta pemantauan dan evaluasi. Keterlibatan pemerintah daerah, Tim Pembina UKS, sekolah, guru, pengelola kantin, orang tua, puskesmas, dan pihak terkait lainnya menjadi bagian penting dalam pengelolaan Kantin Sehat.

Kegiatan Penguatan Kantin Sehat tidak berhenti pada pemberian materi. Sebagai tindak lanjut, SD YPK Mbromsi dan SD YPK Saribra berkomitmen untuk memelihara dan melanjutkan program Kantin Sehat di sekolah serta membentuk petugas Kantin Sehat melalui SK TP-UKS Sekolah.
Pada penutupan kegiatan, Nutrition Manager Yayasan Jenewa Madani Indonesia, Shafa Syahrani, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah kampung, kepala sekolah, fasilitator, dan seluruh peserta atas dukungan terhadap kegiatan. Ia menekankan bahwa pelatihan ini bukanlah akhir, melainkan menjadi awal dari implementasi di sekolah.
Melalui penguatan Kantin Sehat, sekolah di Pulau Mbromsi diharapkan dapat terus membangun lingkungan yang mendukung peserta didik untuk mengenal, memilih, dan membiasakan konsumsi makanan yang sehat. Upaya ini menjadi bagian dari rangkaian edukasi gizi yang lebih luas untuk mendukung kesehatan dan tumbuh kembang peserta didik di wilayah 3T.
