Sebagai bagian dari upaya memperkuat edukasi gizi di satuan pendidikan, dilaksanakan kegiatan Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Edukasi Gizi untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi Siswa Kelas Atas Sekolah Dasar di Kabupaten Biak Numfor.
Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas guru dalam mengintegrasikan pesan-pesan gizi ke dalam proses pembelajaran. Rangkaian kegiatan meliputi pemaparan materi, penyusunan draft RPP/modul ajar, finalisasi, simulasi, bedah RPP, diskusi, hingga penyusunan rencana tindak lanjut.
Melalui kegiatan ini, guru tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai materi edukasi gizi, tetapi juga didorong untuk menghasilkan perangkat pembelajaran yang dapat diterapkan secara langsung dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
Materi mengenai kerangka Edukasi Gizi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pendidikan disampaikan oleh Ibu Yubelina Rumsowek dari Dinas Kesehatan Kabupaten Biak Numfor. Dalam pemaparannya, peserta diperkenalkan dengan tujuh topik utama edukasi gizi, yaitu asal-usul makanan, fungsi makanan, gizi seimbang, kebiasaan makan sehat, jajanan sehat, masalah gizi dan dampaknya, serta pemilahan sampah.

Topik tersebut mencakup pesan-pesan yang dekat dengan keseharian siswa, seperti sumber dan fungsi makanan, konsep Isi Piringku, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), aktivitas fisik, kebiasaan makan sehat, keamanan jajanan, anemia dan Tablet Tambah Darah (TTD), serta pengelolaan sampah.
“Edukasi gizi perlu disampaikan secara kontekstual dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, sehingga pesan yang diberikan tidak hanya dipahami, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.”
— Ibu Yubelina Rumsowek, Dinas Kesehatan Kabupaten Biak Numfor
Pesan tersebut menjadi salah satu landasan dalam proses penyusunan RPP. Setelah mendapatkan materi, peserta langsung mengembangkan RPP atau modul ajar dengan memasukkan topik edukasi gizi yang relevan dengan mata pelajaran dan karakteristik siswa kelas 4, 5, dan 6. Dengan pendekatan tersebut, edukasi gizi diharapkan tidak berdiri sendiri sebagai materi tambahan, tetapi dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran yang lebih kontekstual dan aplikatif.
Proses penyusunan RPP dilanjutkan dengan simulasi, bedah RPP, dan diskusi. Guru bersama fasilitator meninjau rancangan yang telah dibuat, mendiskusikan kesesuaian materi dan metode pembelajaran, serta mengidentifikasi bagian yang masih perlu disempurnakan. Sesi diskusi juga menjadi ruang bagi guru untuk berbagi pengalaman dan membahas tantangan dalam mengintegrasikan edukasi gizi ke dalam pembelajaran. Proses ini membantu memastikan bahwa perangkat yang disusun tidak hanya memenuhi kebutuhan administratif, tetapi juga dapat digunakan secara nyata di kelas.
Forum Kelompok Kerja Guru (KKG) juga akan dimanfaatkan sebagai ruang berbagi praktik baik, termasuk berbagi pengalaman dalam penerapan RPP dan penyempurnaan materi edukasi gizi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan guru memiliki kapasitas dan perangkat pembelajaran yang mendukung penerapan edukasi gizi secara berkelanjutan. Dengan demikian, pesan-pesan gizi dapat disampaikan secara lebih kreatif, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, sekaligus mendukung implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di satuan pendidikan.
